Number of 666

July 8, 2010

BLEACH FanFic II (Chapter II – Part II)

Filed under: Anime, Bleach, Jepang — Tags: , , , — apr @ 11:25 am


Lanjutan yg BLEACH FanFic II (Chapter II – Part I)
Sisa hari itu menjadi hal yang menyebalkan bagi Rukia. Gara-gara masih sedikit emosi karna kejadian tadi pagi, semua kegiatan Rukia menjadi dilakukan dengan hati yang setengah-setengah dan ia tidak bisa menikmatinya dan makin membuatnya stress.

Saat ini semua anak-anak sedang mengemasi barang-barangnya karena mereka harus segera check out dari vila. Tak terkecuali Rukia, dia sedang mengemasi barang-barangnya ke dalam koper mungilnya.

“Kau baik-baik saja Rukia?” tanya Momo yang sedari tadi melihat Rukia memegangi perut bagian sebelah kirinya.

“Sepertinya maag ku kambuh.” ucap Rukia sambil meringis kesakitan.

“Kau sudah makan?” tanya Tatsuki yang berjalan kea rah sahabatnya itu.

“Sudah, tadi aku makan roti.” ucap Rukia lemah.

“Sudah minum obat?” tanya Momo.

“Sudah.” Rukia berbohong, padahal dia tidak meminum obat sama sekali karna dia benci dengan obat.

“Kalau begitu nanti kau langsung saja menuju bis, aku dan Momo akan segera menyusulmu setelah makan siang.

“Baiklah, aku akan menunggu disana.” ucap Rukia sambil menutup kopernya.

Setelah selesai berer-beres, mereka bertiga pun akhirnya menuju ke bawah. Tatsuki dan Momo mengantarkan Rukia ke dalam bis. Di dalam bis belum ada siapapun karna semua anak-anak sedang makan siang, lalu Tatsuki dan Momo pun pergi menuju ruang makan meninggalkan Rukia.

Rukia duduk terkulai di bangku, dan ia menyandarkan kakinya di bangku agar posisinya nyaman dan tidak membuat perutnya lebih sakit dan Rukia memejamkan matanya.

Tap

Rukia mendengarkan langkah kaki dari arah pintu belakang bis dan ia tak mengindahkannya, hanya terus bersandar dan memejamkan matanya.

Tiba-tiba Rukia mendengar suara petikan gitar dari arah bangku paling belakang, lalu orang itu mulai bernyanyi.

Suminareta kono heya wo dete yuku hi ga kita
Atarashii tabidachi ni mada tomadotteru

Eki made mukau basu no naka
Tomodachi ni me-ru shita
Asa no ho-mu de denwa mo shite mita
Demo nanka chigau ki ga shita

Furui gita wo hitotsu motte kita
Shashin wa zenbu oite kita

Nanika wo tebanashite soshite te ni ireru
Sonna kurikaeshi kana?

Rukia kenal betul suara ini, dia tau siapa orang yang sedang bernyanyi.

Tsuyogari wa itsu datte yume ni tsudzuiteru
Okubyou ni nattara soko de togireru yo

Hashiridashita densha no naka
Sukoshi dake nakete kita

Mado no soto ni tsudzuiteru kono machi wa
Kawaranaide to negatta

Furui gita wo atashi ni kureta hito
Toukyou wa kowai tte itteta

Kotae wo sagasu no wa mou yameta
Machigai darake de ii

Rukia tidak mau mengganggu dan merusak nyanyian yang indah itu, ia seakan telah tersihir oleh lagu itu. Rukia mendengarkannya dengan seksama, karena dengan mendengarkan suaranya saja telah membuat hatinya terasa nyaman.

Akai yuuyake ga biru ni togireta
Namida wo koraetemo

Tsugi no asa ga yatte kuru tabigoto ni
Mayou koto datte aru yo ne?

Tadashii koto bakari erabenai
Sore kurai wakatteru

Setelah orang itu berhenti bernyanyi, Rukia pun bangkit dari posisinya dan berjalan menuju tempat di mana orang itu berada.

“Sugoi ne, Ichigo.” seru Rukia sambil tersenyum pada laki-laki di depannya.

Ichigo kaget Rukia muncul di depannya. “Tidak juga.” Ichigo menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

“Kau tau lagu itu?” tanya Rukia.

“Tentu saja, ini lagu kesukaaku.”

“Kalau begitu kita sama dong. Aku juga sangat menyukai lagu itu.”

“Wah, berarti kita jodoh dong. Haha..”

Mendengar ucapan Ichigo, Rukia hanya terdiam.

“Oh iya, kenapa kau di sini? Kau tidak makan siang bersama dengan yang lain?” tanya Ichigo penasaran.

“Tidak, tadi aku sudah makan siang duluan.”

Rukia terdiam sesaat.

“Ichigo…”

“ya?”

“Aku….aku ingin mengatakan ini sebelum aku menyesal?”

“Mengatakan apa?”

“Ichigo, sebenarnya aku…” Rukia berhenti sejenak untuk menarik nafas, lalu saat ia ingin melanjutkan perkataannya Ichigo langsung memotongnya.

“Kau itu mau mengatakan apa sie?” tanya Ichigo tak sabar.

“Dengarkan dulu sampai aku selesai bicara, bodoh!” bentak Rukia karena kesal sekali pada Ichigo tak sabaran.

“Habisnya dari tadi kau bicara tidak selesai-selesai, malah berhenti terus. Dasar cebol!” balas Ichigo yang tak rela dikatai bodoh.

“Aku menyukaimu jeruk!” ucap Rukia dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

Ichigo hanya tercengang mendengar perkataan Rukia yang super cepat. Lalu saat ia dapat mencerna perkataan Rukia, ia pun tersenyum.

“Aku juga menyukai mu midget.”

Ichigo pun meletakan gitarnya di bangku dan langsung memeluk Rukia.

“Ichigo…sakit.” seru Rukia seraya melepaskan pelukan Ichigo.

“Aku terlalu kuat memelukmu ya? Baiklah, aku akan mengendorkan pelukanku.” Seru Ichigo jahil.

Bugh

Tinju Rukia mendarat di perut Ichigo dan berhasil membuat laki-laki itu mengerang kesakitan.

“Rukia, kau kenapa sih? Sakit tau!” tanya Ichigo yang heran sambil mengelus-elus perutnya.

“Kan tadi sudah kubilang sakit!”

“Kau sedang haid ya? Dari tadi marah-marah terus.” seru Ichigo tanpa berpikir.

Duk

Sebuah tendangan dari Rukia berhasil mengenai tulang kering di kaki Ichigo sehingga membuatnya melompat-lompat kesakitan.

“Kau itu jangan asal bicara maag ku kambuh tau!” teriak Rukia yang berhasil menambah nyeri di perutnya.

Rukia yang tak tahan pun meringis kesakitan.

Ichigo tercengang sesaat, lalu Ichigo menyambar tangan Rukia dan menggendongnya dengan Bridal Style, yang membuat Rukia blushing.

“Hey, aku mau dibawa kemana? Turunkan aku!” perintah Rukia yang masih blushing dengan perlakuan Ichigo.

“Diam saja kau cebol. Aku akan membawamu untuk minta obat.”

“Aku tidak cebol!” Rukia mendengus kesal, kemudian ia melihat wajah Ichigo dan tersenyum penuh kebahagiaan.

-END-
penulis : Winna Kiyoe Yoshioka ユイ on Facebook

Advertisements

BLEACH FanFic II (Chapter II – Part I)

Filed under: Anime, Bleach, Jepang — Tags: , , — apr @ 11:06 am


Graduation

Selesai berjogging, Rukia, Tatsuki beserta Momo kembali ke vila, dan mereka melewati taman yang sudah di penuhi oleh teman-teman mereka yang sedang menghirup udara pegunungan di pagi hari yang segar.

Mereka bertiga lantas pergi ke kamar mereka dan bergegas mandi karena tubuh mereka sudah dibasahi oleh keringat.

Setelah mereka bertiga telah rapi, mereka menuju ke taman untuk bergabung bersama teman yang lainnya. Di taman Rukia bemain bagaikan anak kecil, dia memainkan perosotan, jungkat-jungkit, ayunan dan segala mainan anak-anak yang ada di situ.

Rukia dengan tidak bosan-bosannya memainkan ayunan bersama dengan Momo, sedangkan Tatsuki hanya mendorong ayunan mereka berdua. Rukia terlihat amat gembira seperti anak kecil yang di belikan mainan oleh orang tuanya.

Sesekali Rukia melirik Ichigo yang sedang duduk di bangku taman bersama teman-temannya.

“Ahem, sepertinya daritadi ada yang tersenyum terus.” ledek Tatsuki yang sedari tadi melihat Rukia yang sedang memperhatikan Ichigo.

“Aku tidak tersenyum kok.” ucap Momo polos.

“Bukan kau tau! Yang ku maksud itu Rukia.” mendengar ucapan dari Tatsuki, Momo hanya cengengesan saja sedangkan Rukia asik bersweatdrop ria.

“Rukia, Momo. Sudah ah, jangan main ayunan terus! Capek tau dorongnya, kita kesana aja yuk!” Tatsuki menarik pergelangan tangan Rukia dan Momo menuju arah kolam renang.

Terlihat banyak sekali yang sedang bermain di sana, ada yang benar-benar berenang dan banyak pula yang hanya bermain air. Tatsuki megajak Rukia dan Momo berenang di kolam renang, Momo setuju dengan ajakan Tatsuki tapi tidak dengan Rukia yang sangat membenci olahraga renang. Sekeras apapun Tatsuki mengajak dan membujuk tapi Rukia tidak mau merubah keputusanya karena satu hal, Rukia tidak bisa berenang. Akhirnya hanya Tatsuki dan Momo yang berenang, sementara Rukia hanya bersandar pada pohon di tepi kolam renang. Dan saat itu Rukia melihat Kaien yang sedang bersama dengan mainan barunya, Senna.

Tak sengaja mata Kaien bertemu pandang dengan mata Rukia, lalu Kaien menyeringai dan berjalan meninggalkan Senna, menuju Rukia. Rukia yang melihat Kaien berjalan ke arahnya segera pergi dari tempatnya. Kaien segera mengejarnya dan menarik pergelangan tangan Rukia dan membawanya ke tempat yang agak sepi.

“Lepaskan, sakit tau!” Rukia berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Kaien.

“Hmm…sepertinya Rukia yang sekarang menjadi sedikit galak ya?” Kaien menyeringai sambil terus mengencangkan cengkramannya pada pergelangan tangan Rukia.

“Sudah ku bilang lepaskan!” tangan Rukia mulai memberontak tapi tetap tak berhasil melepaskan dirinya dari Kaien. “Sebenarnya apa sih yang kau inginkan dariku?” Rukia berteriak kesal.

“Kau masih mengharapkanku kan?” seru Kaien dengan tenang masih dengan seringai di wajahnya.

“Kau masih belum puas mempermainkanku?” saat ini wajah Rukia sudah memerah, bukan karena malu, melainkan karena emosinya yang memuncak.

“Tidak ada yang mempermainkanmu Rukia.” seru Kaien dengan tenang.

“Oh ya? Lalu waktu kau menerima uang taruhan setelah berpacaran denganku dan waktu kau berduaan dengan Neil di Laboratorium setelah pulang sekolah apa? Kau kira aku ini bonekamu yang bisa kau mainkan kapan saja kau mau?!” Rukia menumpahkan semua kekesalannya selama ini yang ia pendam.

“Saat menerima uang taruhan aku memang salah, tapi tidak dengan tentang Neil. Dia yang menggodaku.” elak Kaien.

“Omong kosong.” ucap Rukia dingin. “Lalu bagaimana dengan Senna?” Rukia menatap mata Kaien dengan tatapan kebencian.

“Dia cuma teman biasa.” Kaien masih membela diri.

“Lalu, bagaimana dengan taruhan kau bisa berpacaran denganku lagi!?” kali ini Rukia sedikit berteriak.

“Kau mendengar hal itu dari siapa? Semua yang kau dengar itu bohong Rukia.” Kaien semakin mencekram erat pergelangan tangan Rukia hingga Rukia meringis kesakitan.

“Lepaskan aku!” Rukia sekali lagi mencoba membebaskan diri dari cengkraman Kaien.

“Berhentilah mengganggu Rukia!” Ichigo tiba-tiba muncul dan segera melepaskan cengkraman Kaien di tangan Rukia.

“Berani sekali kau menghalangiku, memangnya kau siapanya Rukia?” tanya Kien kesal.

“Aku sahabatnya. Memangnya salah kalau aku membantunya menyingkirkan orang yang mengganggu baginya?” Ichigo menjawab pertanyaan Kaien dengan lantang.

“Oh. Jadi kau mau bertindak sebagai pahlawannya Rukia?” seru Kaien dengan nada merendahkan.

“Sudahlah jangan banyak bicara. Apa kau tidak malu dengan sikapmu yang terus memaksa wanita?” seru Ichigo kesal.

“Apa kau bilang?” saat Kaien ingin menghajar Ichigo, gerakannya terhenti karena teriakan Rukia.

“Hentikan….!!!” wajah Rukia kini benar-benar memancarkan emosi yang tinggi. “Ichigo, lebih baik kita segera pergi dari sini.” Rukia menarik tangan Ichigo menjauhi tempat Kaien.

Setelah cukup jauh dari tempat Kaien, Rukia berhenti dan melepaskan genggaman tangannya dari Ichigo. Rukia mengatur nafas untuk meredakan emosinya yang sempat memuncak. Ichigo hanya memandang Rukia.

“Terima kasih Ichigo.” ucap Rukia.

“Sama-sama.” Ichigo melihat pergelangan tangan Rukia yang merah bekas cengkraman Kaien, “Tanganmu baik-baik saja?” tanya Ichigo khawatir.

“Ya. Hanya sedikit sakit.” ucap Rukia Jujur.

“Lebih baik kau mengobatinya sebelum menjadi memar.” saran Ichigo.

“Baiklah.” Rukia sejenak terdiam, “Sekali lagi terima kasih Ichigo. Kau memang sahabatku yang paling baik.”

Ichigo hanya tersenyum mendengar perkataan dari mulut Rukia, dan ia segera pergi meninggalkan Rukia karna Ishida memanggilnya.

oOo
penulis : Winna Kiyoe Yoshioka ユイ on Facebook

BLEACH FanFic II (Chapter 1)

Filed under: Anime, Bleach, Jepang — Tags: , , — apr @ 10:56 am


Akhirnya fic kedua Yupi nongol jg stelah bkrja keras melawan rasa malas ngetik…XD

Pairingnya masih Ichiruki, harap jangan pada bosen ya…R&R please

Disclaimer: Bleach punya Yupi *disiram oli sama Om Kubo*

-Graduation-

Rukia dan kawan-kawannya sedang berada di puncak dan menginap untuk satu malam, mengadakan acara kelulusan semua murid SMA Karakura. Acara inti, yaitu pembagian ijasah yang telah selesai dan acara saat ini adalah acara hiburan.

‘Perasaan apa ini? Dadaku terasa sesak.’

Begitulah yang sekarang tengah dirasakan oleh Rukia saat melihat Ichigo, sahabat terbaiknya sedang bermain gitar mengiringi seorang diva di sekolah, Orihime.

Momo yang merasakan sikap sahabatnya sedikit aneh menjadi khawatir. Karena tak biasanya Rukia hanya diam seratus ribu bahasa ketika melihat Ichigo manggung.

“Rukia, kau baik-baik saja? Kenapa dari tadi kau diam?” tanya Momo pada Rukia yang bengong dan mulutnya sedikit terbuka melihat Ichigo di panggung.

“Kau baru tau ya Momo? Dari dulu kan aku memang sudah aneh.” Rukia masih sempat-sempatnya ngebanyol walaupun hatinya sedang galau (lagunya Titi DJ donk?).

“Dasar Rukia. Kau memang tak pernah serius, selalu membuatku tertawa .” Momo langsung ketawa gaje.

“Memangnya wajahku mirip badut apa sampe bisa buat kamu ketawa?” Rukia langsung memasang tampang serius yang malah membuat tawa Momo semakin menjadi-jadi.

“Ssssttttt…..! Kalian berdua ini berisik banget sie! Mau pada di lakban apa mulutnya!” omel Tatsuki yang nongol dari belakang dengan wajah horornya.

Rukia dan Momo hanya sweatdrop melihat Tatsuki seperti itu. Rukia pun kembali mengalihkan pandangannya pada Ichigo dan Orihime yang berada di panggung. Tak lama kemudian nyanyianpun selesai, dan Ichigo langsung meluncur kembali ke bangkunya yang beada tepat di depan bangku Rukia.

“Oy Rukia. Bagaiman penampilanku tadi?” tanya Ichigo sambil nyengir mamerin deretan giginnya yang putih kinclong sampe bikin Rukia kesiloan.

“Jelek.” ujar Rukia ketus (padahal dalam hati teriak memuji abis-abisan penampilan Ichigo, sampe suara hatinya serek).

“Sudah kuduga.” Ichigo manyun sampe bibirnya maju 30cm.

“Oy Ichigo. Kapan kau merencanakan acara tadi? Padahal setahu ku hanya Orihime yang mau manggung.” tanya Rukia dengan wajah sedikit cemberut.

‘Oh May Ghost (?). Rukia imut banget…!’ teriak suara hati Ichigo, yang sudah tak tahan ingin menubit pipi Rukia.

“Baru tadi sore. Waktu lagi ngumpul sama Uryuu, Chad, Keigo, dkk aku di seret sama Orihime buat nemenin dia manggung soalnya dia malu sendirian. Makanya tadi aku mainnya gak masimal.”

Rukia hanya manggut-manggut, tapi dalam hatinya ia merasa begitu sesak. Sesaat perhatian Rukia teralih pada teriakan histeris teman-teman wanita. Rukia lalu melirik ke arah panggung dan menatap seseorang yang berada di atas panggung dengan tatapan kesedihan yang terpancar dari mata violetnya yang indah.

Ichigo yang sadar dengan sikap Rukia berkata dalam hati. ‘Kaien, aku tak akan pernah membiarkan kau menyakiti Rukia lagi.’

oOo

Rukia yang sudah siap dengan celana training, T-shirt dan jaket, serta sepatu olahraga. Dia melirik jam mungil yang berada di pergelngan tangannya, jarum jam telah menunjukan pukul 05.50.

“Momo….Tatsuki….cepatlah, nanti kita ditinggal sama anak-anak yang lain!” teriak Rukia nyaring dari depan pintu.

Tak lama kemudian pintu pun terbuka dan munculah perempuan berambut hijau dengan tampang kusutnya, yang menandakan bahwa ia batu saja bangun tidur.

“Rukia. Kalau mau teriak-teriak jangan disini, ganggu orang tidur tau. Teriak aja sana di Ragunan sekalian gelantungan di pohon, bareng sama saudara-saudaramu!” seru Neil dengan nada mengejek.

Rukia pun merasa tersinggung dengan ucapan Neil, “Kamu nyindir aku? Dasar medusa!”

“Apa kau bilang!” saat Neil hendak menjambak rambut Rukia, tiba-tiba Tatsuki muncul dan menahan tangan Neil.

“Kalian berdua berhentilah selalu berbuat seperti ini. Seperti anak kecil saja.” seru Tatsuki yang menatap pada Rukia dan Neil.

“Dia duluan yang mulai!” Rukia menunjuk kea rah Neil.

“Kau bilang apa cebol! Jelas-jelas kau dulua!” Neil tak mau kalah.

“Kubilang hentikan!” seru Tatsuki geram. “Sudahlah Rukia, ayo kita pergi!” tanpa banyak bicara, Tatsuki menyeret Rukia yang mendengus kesal. Sementara Hinamori yang sedari tadi hanya melihat adegan pertengkaran itu hanya berjalan mengikuti kedua sahabatnya ke halaman.

“Yah, kita di tinggal sama yang lain.” seru Momo yang melihat sudah tak ada lagi teman-teman yang di lapangan. Yang ada hanyalah bunyi jangkrik.

Krik…Krik…Krik…

“Gara-gara kalian sie!” gerutu Rukia.

“Ya sudahlah, kita bertiga juga bisa jalan sendiri kan.” seru Tatsuki yang mulai kesal dengan sikap Rukia yang menyebalkan.

“Aku setuju dengan Tatsuki.” seru Momo.

Kemudian mereka bertiga pun jogging bersama-sama. Tatsuki yang penasaran dengan sikap Rukia yang agak sentiment sejak semalam pun akhirnya tak tahan lagi dengan keingin tahuannya.

“Rukia, kau itu kenapa si? Dari semalam gak seperti biasanya.” tanya Tatsuki to the point.

“Aku lagi bingung, gundah, gelish, galau, dst…” kelebayan Rukia nongol.

” Bingung, gundah, gelisah kenapa?” tanya Momo yang penasaran.

“Huh…..” Rukia malah mendesah.

“Sebenarnya kauu itu kenapa si?” tanya Tatsuki dengan sedikit maksa.

“Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada seseorang.” jawab Rukia datar.

“Haaaa…..!” seru Tatsuki dan Mooo bersamaan dengan bola mata yang hampir lepas dari rongganya karena terlalu kagetnya.

“Kau suka Renji ya?” tanya Tatsuki dengan semangat 45 yang menggebu-gebu.

“Renji..! Tang benar saja Tatsuki! Mana mau aku sama nanas kayak dia. Lagipula dia kan pacarmu.” sembur Rukia.

“Kalau begitu sama Aizen sensei ya?” sekarang malah Momo yang ikutan ngaco.

“Aku gak minat sama om-om kayak kamu!” Rukia kesal dengan ucapan teman temannya yang aneh.

“Hmmm…Kalau begitu sama Kaien ya?” tebak Tatsuki (lagi).

Rukia hanya terpaku setelah mendengar nama itu, Tatsuki yang menyadari ekspresi Rukia langsung merasa tak enak hati karena Rukia pernah menyukai dan dihianati oleh Kaien.

“Ya, aku memang masih menyukainya tapi aku tak mungkin bersamanya lagi karna ia telah melukai hati ku.” ucap Rukia jujur.

“Ichigo!” seru Momo tiba-tiba.

Ucapan Momo barusan berhasil membuat sebuah semburat merah di wajah Rukia.

“Jadi kau menyukai Ichigo!” seru Tatsuki setengah berteriak.

“Ssstt….jangan kenceng-kenceng ngomongnya!” betntak Rukia.

Momo hanya cekikikan melihat wajah Tatsuki yang masih kaget dan wajah Rukia yang memerah semerah tomat.

“Jadi kau benar-benar menyukai Ichigo?” tanya Tatsuki memastikan.

“Ya.” Rukia menunduk malu.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

Rukia memandang sejenak Tatsuki dan Momo “Aku tak tau…”

-Tsudzuku-
penulis : Winna Kiyoe Yoshioka ユイ on Facebook

July 1, 2010

BLEACH

Filed under: Anime, Bleach, Jepang — apr @ 2:26 pm

Bleach (ブリーチ, Burīchi?, diromanisasikan sebagai BLEACH di Jepang) adalah serial manga yang dikarang oleh Tite Kubo (久保 帯人 Kubo Taito), mangaka dari Zombie Powder. Serial Bleach mulai diterbitkan sejak tahun 2001, dan semenjak penerbitannya, serial ini sudah diadaptasi menjadi sebuah serial anime, dua buah OVA (Original Video Animation), satu film layar lebar, satu musikal rock, dan beberapa judul permainan video. Kompilasi manga (Tankōbon) Bleach sudah terjual sebanyak 39 juta kopi di Jepang. Manga ini diserialkan dalam mingguan Shonen Jump.

Bleach bercerita tentang Ichigo Kurosaki, seorang pelajar SMA yang memiliki kemampuan untuk melihat arwah, dan juga Rukia Kuchiki, seorang shinigami (dewa kematian) yang pada suatu hari bertemu dengan Ichigo sewaktu sedang memburu arwah jahat yang disebut hollow. Pada saat Rukia bertarung melawan hollow tersebut, ia terluka dan oleh sebab itu ia tidak memiliki jalan lain selain memindahkan kekuatan shinigami-nya kepada Ichigo. Sejak saat inilah petualangan Ichigo dan Rukia dimulai.

Mereka berdua bertualang mencari dan melawan para hollow dan melaksanakan ritual (konsou) untuk para arwah gentayangan. Dengan ritual ini, para arwah gentayangan menerima pembersihan dan mereka dapat dikirim ke Soul Society (Masyarakat Roh). Bagian awal dari cerita ini difokuskan kepada karakter-karakter dan masa lalu mereka, dan bukan terfokus pada dunia pekerjaan shinigami. Seiring jalannya cerita, hal-hal seperti kehidupan shinigami di Soul Society mulai terungkap sedikit demi sedikit.

Donwload Anime Bleach 276 ~One Hit Kill, Soifon, Bankai!~ (via Jlmasjidtengah)

Filed under: Anime, Bleach, Jepang — apr @ 2:16 pm

Donwload Anime Bleach 276 ~One Hit Kill, Soifon, Bankai!~ Download Bleach 276 Bleach 276 ~One Hit Kill, Soifon, Bankai!~ Soifon akhirnya mengeluarkan Bankainya yang selama ini dia simpan. tetapi apakah bankainya mampu menghadapi kekuatan barragan yang mengerikan itu. CrunchySubs Mediafire 150MB MKV -> disini Mediafire 279MB MKV -> part1 | part2 (gabung pakai HJSplit)! Mediafire 60MB MKV -> disini IDWS 150MB … Read More

via Jlmasjidtengah

Bleach FanFic

Filed under: Anime, Bleach, Jepang — Tags: , — apr @ 2:00 pm

Disclaimer : Bleach punya Yupi *buatan temenku “Winna Kiyoe Yoshioka ユイ“*

Rate : T

Pairing : Ichiruki

Please enjoy it…(^.^)
oOo

Seorang wanita muda berjalan di bawah sinar mentari musim semi yang hangat. Wanita itu menatap langit yang cerah. Angin telah membuat gaunnya melambai-lambai. Tubuh mungil wanita itu berjalan dengan anggun, gaun yang senada dengan warna matanya yang violet serta guguran bunga sakura di sekelilingnya, menambah pesona kecantikannya.

Langkah wanita itu terhenti di depan sebuah sekolah, SMA Karakura. Wanita itu sempat termenung lalu tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya ke dalam sekolah itu. Dia berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah, melihat murid-murid sedang melakukan berbagai aktifitas di dalam kelas, membuatnya merasa rindu akan masa-masa sekolah yang telah ia lalui.

‘Seandainya aku bisa kembali ke masa itu.’ Begitu yang ada di dalam pikiran wanita itu.

“Rukia…!!”

Wanita itu, Rukia. Dia menoleh kebelakang, melihat pria yang berada di hadapannya, ia un tersenyum. “Yo Renji.”

Renji berjalan menghampiri Rukia, “Hey, kapan kau sampai?”

“Baru saja.”

“Kukira kau tak akan datang, kau kan sangat sibuk.”

“Hahaha…..Ada waktunya aku harus berpisah dengan pekerjaanku. Kalau tidak, aku akan tua sebelum waktunya.”

“Benar juga katamu. Haha…Aku benar-benar bodoh.”

“Ya ampun…Ternyata sejak dulu kau tak menyadari kebodohanmu ya?” ledek Rukia, dan mereka bedua pun tertawa. “Hey Renji, kapan yang lain akan datang?” tanya Rukia yang sangat rindu pada teman-temannya, sudah lama mereka semua tak bertemu karena Rukia disibukan oleh pekerjaannya.

Renji kemudian melirik jam tangannya, “Sepertinya sekitar setengah jam lagi mereka semua akan datang.”

“Yap. Kalau begitu kau lanjutkan saja pekerjaanmu dan aku akan berkeliling.” Rukia melirik kertas-kertas menumpuk yang berada di tangan Renji.

“Ok. Nanti aku akan menyusul setelah mengurus anak-abak di kelas.”

Ya. Renji adalah seorang guru di SMA Karakura. Dia telah mengabdikan hidupnya selama dua tahun di sini dan cukup di gemari oleh para siswi.

Rukia menelusuri seluk-beluk sekolah itu, dia tidak merasa banyak perubahan yang terjadi di sana selama ia pergi. Hal itu meembuatnya tampak nyaman berada di sana. Rukia berjalan menuju atap sekolah. Sejak dulu ia sangat menyukai tempat ini, bersama teman-temannya saat istirahat, mereka selalu menghabiskan waktu di sini. Tempat yang penuh dengan kenangan indah.

wasureru koto nado dekiru to omou no minare ta senaka o oikake tai

Tiba-tiba Hp Rukia berdering.

“Hallo Renji, baiklah aku akan segera kesana.” Rukia segera bergegas pergi menuju tempat dimana teman-temannya telah berada.

Di halaman belakang sekolah telah berkumpul Renji, Ishida, Chad, Orihime, Tatsuki, Keigo dan Mizuiro. Rukia pun segera bergabung dengan mereka.

“Kuchiki san.” Orihime langsung memeluk Rukia.

“Halo Inoue.” Rukia balas memeluknya.

“Hei Rukia, bagaimana kabarmu?” tanya Tatsuki yang sedang bersandar di pohon.

“Aku baik-baik saja seperti biasanya” Rukia tersenyum hangat.

Mereka berdelapan akhirnya berbincang-bincag setelah lama tak berjumpa. Rukia melihat kini teman-temannya telah banyak memiliki perubahan, terutama Keigo yang sekarang tidak lagi terobsesi kepada wanita. Rukia amat merindukan suasana ini, tapi ia masih merasakan sesuatu yang kurang. Laki-laki itu, dia tidak lagi berada di sini.

Setelah cukup lama saling melepas rindu, mereka pun melaksanakan tujuan utama mereka, yaitu membuka kapsul waktu. Mereka telah menaruh kapsul waktu saat upacara kelulusan dan berjanji akan membuka kapsul waktu itu enam tahun kemudian. Mereka mengubur kapsul waktu di bawah pohon ini, pohon yang memiliki banyak kenangan akan kebersamaan mereka.

Renji dan yang lainnya mulai menggali kapsul waktu itu. Dan membagikan kepada pemiliknya masing-masing. Di dalam kapsul waktu itu terdapat ungkapan dan harapan masing-masing orang untuk masa depan.

“Rukia, ambil ini.” Renji memberi sebuah kapsul waktu lagi kepada Rukia.

“Kenapa kau memberikan ini kepada ku?” Rukia heran tapi tetap mengambil kapsul waktu itu.

“Dia yang telah mengatakannya padaku. Dulu, ia berkata. ‘Jika aku tak bisa membuka kapsul waktu itu, bisa kau berikan kapsul waktu itu pada Rukia.’ Jadi sekarang itu menjadi milikmu.” Renji menatap mata violet Rukia dalam.

Rukia membuka perlahan kapsul waktu tersebut lalu mengambil secarik kertas yang berada di dalamnya. Rukia membuka lipatan kertas itu, dan mulai membacanya.

Aku Ichigo Kurosaki, sekarang usiarku 18 tahun. Mungkin saat aku membuka kapsul waktu ini dan membaca kembali suratku, usiaku telah 24 tahun.

Aku tak percaya bahwa aku mengikuti ide gila teman-temanku tentang kapsul waktu ini. Seperti anak SD saja.

Sesuatu yang aku harapkan nanti saat aku membaca surat ini adalah aku menjadi orang yang berguna dan mapan tentunya, agar aku sebanding dengan dia, Kuchiki Rukia.

Sebenarnya sejak dulu aku sangat menyukainya, tapi aku merasa jauh berbeda dari dia. Dia seperti dewi yang sempurna, cantik, pintar, baik dan dia adalah seorang putrid dari orang ternama. Tidak seperti aku yang hanya menjadi orang biasa saja.

Haha. Aku berfikir aku memang amat bodoh menuliskan perasaanku pada selembar kertas ini. Yah, mudah-mudahan saja semua keinginanku itu benar-benar terkabul.

Fikiran Rukia melayang kembali pada enam tahun yang lalu

Flashback

Hari ini adalah hari kelulusan, Renji, Ishida, Chad, Mizuiro, Keigo, Orihime, Tatsuki, Rukia beserta Ichigo pun mengerjakan rencana yang mereka buat yaitu mengubur kapsul waktu.

Setelah selesai mereka pun pergi ke sebuah Café untuk merayakan kelulusan mereka semua. Mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing-msasing, kecuali Ichigo dan Rukia. Mereka berjalan bersama, karena rumah mereka searah.

“Rukia. Kau benar-benar akan pergi ke Amerika?” tanya Ichigo memecahkan keheningan yang sedari tadi menyelimuti mereka.

“Ya. Karena aku sudah di daftrakan oleh ayahku. Sebenarnya aku tidak mau, tapi aku tidak bisa menentang kehendak ayahku. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah memutuskan masuk Universitas?” Rukia berbicara tak benar-benar memandang Ichigo.

“Aku akan pergi ke London.” seru Ichigo.

“Apa?” Rukia membelalakan matanya kaget.

“Aku mendapatkan beasiswa di Oxford, dan aku akan kuliah di sana.” Seru Ichigo datar.

“Kenapa kau ta pernah mengatakannya padaku?” Rukia menjadi sedikit emosi karena sahabatnya menyembunyikn sesuatu darinya.

“Tadinya aku ragu-ragu dengan keputusan itu, jadi aku tak membicarakannya padamu dan yang lain.” Ichigo menatap lekat Rukia.

Terjadi jeda sesaat diantara pembicaraan mereka.

“Aku pasti akan merindukanmu.” ucap Rukia lemah.

“Ya. Aku juga pasti akan selalu meindukanmu. Tapi percayalah aku tak akan pernah melupakanmu.” Ichigo tersenyum lembut tak seperti biasanya.

Rukia menatap Ichigo, lalu ikut tersenyum. Tak lama kemudian mereka pun harus terpisah oleh jalan.

“Baiklah Ichigo, kita berpisah di sini. Sampai jumpa.” Rukia lalu menyebrangi Zebra Cross saat sebuah mobil tiba-tiba muncul dan melaju dengan sangat cepat.

“Rukia…awas….!!!” Ichigo pun langsung berlari kea rah Rukia dan mendorong gadis itu ke tepi, lalu semua terasa gelap di mata Rukia.

oOo

Rukia membuka matanya, semua terlihat putih. Saat ia hendak bangun dari posisinya, kepalanya terasa amat pusing. Dia meraba kepalanya, dia dibaut oleh perban.

“Rukia, kau sudah sadar. Arigatou Kamisama.” seru seorang wanita yang sangat mirip dengan Rukia tetapi dalam versi lebih dewasa.

Rukia menatap ibunya heran. “Ibu, aku ada dimana?”

“Kau di Rumah Sakit sayang. Kau kemarin mengalami kecelakaan.” ujar sang ibu lembut.

Rukia kemudian teringat akan kejadian kemarin, ia hampir saja tertabrak sebuah mobil tapi Ichigo medorongnya ke tepi. Pikiran Rukia langsung terpaku pada Ichigo.

“Ibu. Dimana Ichigo?” Rukia sangat Khawatir.

“…”

“Ibu. Ichigo dimana? Bagaimana keadaannya?” Rukia menjadi semakin tidak sabar.

Tiba-tiba pintu terbuka dan munculah Kuchiki Byakuya, ayah Rukia.

“Tenang Rukia, Ichigo baik-baik saja. Kau tak perlu mengkhawatirkan keadaannya.” ucap Byakuya tenang.

Setelah mendengar ucapan ayahnya, Rukia pun menjadi sedikit lebih tenang. “Lalu kapan aku boleh menjenguknya?” tanya Rukia lemas.

“Setelah kau sembuh.” jawab Byakuya dengan datar.

Rukia sudah di rawat di Rumah Sakit selama seminggu, dan ia pun tak sabar untuk melihat bagaimana keadaan temannya itu. Setelah keluar dari Rumah sakit, Rukia bergegas menuju rumah Ichigo. Keadaannya sagat sepi di sana, tak seperti hari-hari biasanya. Rukia pun mengetuk pintu.

Tok…tok…tok…

Tak lama pintu terbuka dan muncul seorang gadis berambut coklat, dia tersenyum lemah.

“Hallo Rukia chan. Kau sudah sembuh ya?” tanya gadis itu dengan senyum yang tak seceria biasanya.

“Ya Yuzu. Aku kesini ingin melihat Ichigo, bagaimana keadaannya?”

Setelahh mendengar perkataan Rukia, Yuzu pun terdiam, gadis kecil itu terlihat sedih.

“Yuzu, kenapa kau tidak mempersilakan tamu kita duduk.” Ishin Kurosaki pun muncul di belakang anaknya.

Rukia pun masuk dan duduk di ruang tamu sedangkan Yuzu meniapkan minuman untuk Rukia dan terlihat Karin sedang duduk di sofa sedang menonton televisi.

“Rukia, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.?” seru Ishin dengan amat serius.

Rukia yang hendak bicara hanya mengangguk.

“Ini tentang Ichigo….” Ishin tak meanjutkan perkataannya.

Seketika detak jantung Rukia langsung berdetak dengan sangat cepat. “Ada apa dengan Ichigo?” Rukia mencoba bersikapp tenang.

“Aku harap kau bisa menerima berita ini.” Ishin kembali terdiam.

“…”

“Ichigo sudah meninggal.” lanjut Ishin.

Ucapan Ishin seakan menghentikan detak jantung Rukia. Dia tak percaya pada apa yang telah di ucapkan Ishin, tapi dalam raut wajah Ishin tak ada kebohongan. Air mata Rukia pun meleleh mengaliri wajahnya.

“Ba…Bagaimana….” Rukia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

“Dia meninggal setelah berhasil menyelamatkanmu. Dia mengalami pendarahan yang parah, dan sebelum tiba di Rumah Sakit dia pun meninggal.” Ishin berkata dengan tatapan amat menyesal pada Rukia.

Rukia hanya bisa terisak, dia tak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi di dalam hidupnya. Cinta yang ia pendam selama ini kepada Ichigo tak akan pernah berhasil ia ungkapkan. Karena sang Cinta itu sendiri telah pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

End of Flashback

Tak terasa air mata Rukia menetes, dia tidak percaya dengan apa yang barusan ia baca.

“Rukia. Kau baik-baik saja?” tanya Orihime yang khawatir dengan Rukia yang tiba-tiba menangis.

Rukia yang merasa menjadi pusat perhatian segera menyeka air matanya. “Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu menghawatirkan aku. Aku hanya kaget dengan apa yang Ichigo tulis dalam surat ini.”

“Baiklah kalau begitu. Kami semua akan pergi ke Café, kau masih ingin tetap bersama kami.” Orihime tersenyum dengan lembut sambil merangkul pundak Rukia.

Rukia hanya mengangguk dan mengikuti acara yang telah teman-temannya buat.

Akhirnya setelah dari Café mereka pun berpisah. Rukia memutuskan berjalan sendiri. Dia berjalan menuju taman tempat dulu ia sering bersama Ichigo.

Rukia menatap langit yang sekarang telah berwarna jingga, seperti warna rambut Ichigo yang mencolok. Ia masih tak percaya dengan apa yang telah Ichigo tulis dalam surat tersebut. Ichigo menyukainya, sama seperti dirinya menyukai Ichigo. Rukia pun tersenyum lembut pada langit tersebut dan berdoa dalam hati kecilnya.

Walaupun sekarang kita di takdirkan tidak untuk bersama. Semoga saja Tuhan akan mempertemukan kita kembali dan menakdirkan kita bersama-sama di kehidupan yang selanjutnya.

-End-

Create a free website or blog at WordPress.com.