Number of 666

November 17, 2010

Kelas Kata Bahasa Jepang

Filed under: Bahasa Jepang, Jepang — Tags: , , — adiprayit @ 9:09 am

Pembagian kelas kata dalam bahasa Jepang disebut hinshi bunrui. Hinshi berarti jenis kata atau kelas kata ( word class, part of speech ), sedangkan bunrui berarti penggolongan, klasifikasi, kategori, atau pembagian.

Jadi hinshi bunrui dapat berarti klasifikasi kelas kata berdasarkan berbagai karateristiknya secara gramatikal. Adapun pembagian kelas kata menurut Kokugo Daijiten dibagi menjadi 10 jenis kata yaitu :

* Dôshi ( Verba ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan dapat menjadi predikat. Dôshi ini biasanya berakhiran bunyi ~u. Contoh : kaku (menulis), taberu (makan).

* Keiyôshi ( Adjektiva~i ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri, juga dapat

menjadi predikat. Keiyôshi memiliki beberapa perubahan kata dan biasanya berakhiran ~i. Keiyôshi disebut juga kata sifat golongan satu. Contoh : shiroi (putih), atsui (panas).

* Keiyôdôshi ( Adjektiva~na ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan merupakan kata sifat golongan dua, memiliki perubahan sendiri yang berbeda dengan kata sifat golongan satu ( keiyôshi ). Contoh : kirei (cantik), jôzu (pandai).

* Meishi ( Nomina ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan bisa menjadi subjek. Meishi tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh : kutsu (sepatu), tsukue (meja).

* Rentaishi ( Prenomina ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan bisa menjadi kata yang menerangkan kata lain. Rentaishi ini tidak bisa menjadi subjek dan tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh : sono (itu), chiisana (kecilnya).

* Fukushi ( Adverbia ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan berfungsi sebagai kata keterangan untuk yôgen (predikat). Fukushi tidak dapat menjadi subjek dan tidak memilliki perubahan bentuk. Contoh : zutto (terus) , taihen (seperti, seolah-olah).

* Setsuzokushi ( Konjungsi ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri dan berfungsi untuk menyatakan hubungan antar kalimat atau bagian kalimat atau frase dengan frase. Setsuzokushi tidak bisa menjadi subjek dan tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh : soshite (lalu, kemudian), suru to (selanjutnya, dengan demikian).

* Kandôshi ( Interjeksi ) adalah kata yang dapat berdiri sendiri, pada umumnya menyatakan ekspresi, perasaan, cara memanggil, cara menjawab dan lain sebagainya. Kandôshi tidak dapat menjadi subjek dan tidak memiliki perubahan bentuk. Contoh : ee (ya, benar), moshi moshi (halo).

* Jodôshi ( Verba Bantu ) adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri, terutama banyak melekat pada dôshi, keiyôshi juga pada jodôshi lain. Sebagian jodôshi memiliki perubahan sendiri. Contoh : ~rareru (bentuk dapat, perintah), ~rashii (sepertinya, kelihatannya).

* Joshi ( Partikel ) adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak memiliki perubahan. Bila kata ini terpisah dari kata lain, maka kata ini tidak mempunyai arti. Jôshi hanya berfungsi untuk menyambung kata-kata jiritsugo dalam pembentukan kalimat bahasa Jepang dan juga menentukan arti kata tersebut. Contoh : no (kepunyaan, milik), de (di, dengan)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: